Desi Fitriani, Wartawati Metro TV Yang Saya Kenal

Desi Fitriani, Wartawati Metro TV Yang Saya Kenal

Oleh: Dimas Supriyanto

 

aya kenal Desi Fitriani, wartawan Metro TV itu. Sebagai sesama wartawan, saya mengamati sepak terjangnya. Saya iri, dan menyesali diri tidak pernah bisa seperti dia.

Desi dikenal sebagai wartawan spesialis peliput wilayah konflik. Daerah daerah gawat pernah dijelajahi dan dilaporkannya, sejak Timor Timur, Ambon, Aceh, Papua, bahkan hingga jalur Gaza. Terakhir melaporkan dari Mindanao – Filipina.

Selama ini, dia aman–aman saja. Siapa sangka, justru di tengah acara keagamaan, di antara umat yang merasa taat, sedang dzikir, dan memuliakan Allah dan ajarannya, justru dia digebuk bambu dan kayu?

Saya terkejut atas insiden yang menimpanya. Prihatin juga. Tentu saja ikut mengecam. Pelakunya jelas manusia pengecut. Apa yang di benak pelaku ketika memukuli kepala reporter perempuan di lapangan? Sungguh tindakan brutal dan primitif sekali!

Terakhir saya bertemu Desi di sebuah acara lokakarya jurnalistik, tiga tahun lalu. Bersama Maria Hartiningsih (Kompas), Desi Fitriani mewakili Metro TV tampil sebagai pembicara dan berbagi pengalaman sebagai wartawan peliput konflik dan masalah masalah kemanusiaan.

Acara itu diselenggarakan atas hasil kerjasama antara Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) dengan Komite Internasional Palang Merah (ICRC), dalam rangka memperingati hari ulang tahun LPDS ke-25. Di antara serangkaian kegiatan lokakarya, yang diselenggarakan, salah satunya adalah lokakarya Peliputan Daerah Bencana/Konflik. Lokakarya tersebut diselenggarakan pertengahan Juli 2013 di Hotel Akmani, dekat Sarinah, Jakarta.

Para peserta yang hadir terdiri dari wartawan madya dan wartawan utama, yang dalam karir jurnalistiknya berada di jenjang karir pengambilan keputusan kebijakan redaksi, baik media pers cetak dan elektronik maupun media siber, menyimak paparan presentasi dari nara sumber.

Tujuan diadakannya lokakarya ini adalah untuk memberikan pengetahuan tentang cara meliput di daerah konflik dan bencana, Jenis liputan ini memerlukan ketahanan fisik dan mental wartawan, pengetahuan akan etika liputan, kemampuan menyintas (survival) dan juga penyembuhan bila terjadi trauma. Itu sebabnya Fitri dihadirkan sebagai pelaku lapangan.

Pada awal bicaranya, Desi berkisah bahwa orangtuanya putus asa melarangnya bekerja sebagai wartawan. Lalu diungkapkan di rumah selalu diselenggarakan pengajian dan “yasinan” setiap kali dia berangkat tugas ke wilayah konflik. Seperti direlakan pergi atau tak kembali. Atau didoakan agar selamat. Tentu saja audiens ketawa dibuatnya. Dan sejauh ini dia selamat.

Dari pengalamannya di lapangan, Desi menuturkan kondisi lapangan konflik yang tak menentu (tentu saja) dan posisinya yang terjepit sebagai wartawan independen.

Saat meliput di Timor Timur, Aceh dan Papua, misalnya, oleh Tentara Indonesia dianggap pro pemberontak. Sementara oleh pemberontak dianggap sebagai mata mata tentara.

PADA masa awal menjadi wartawan, saya bercita cita seperti Desi Fitriani, jadi wartawan perang, meliput wilayah konflik. Saya terpengaruh oleh almarhum Moctar Lubis yang membuat liputan di Korea di tahun 1950-an. Dalam pikiran saya sebagai pemuda 20 tahun, menjadi wartawan perang itu keren, penuh petualangan.

Melihat sepak terjang Desi Fitriani kemudian, saya hanya bisa iri. Dan salut, tentu saja. Saya tidak mendapat kesempatan untuk meliput wilayah konflik seperti perempuan pemberani ini.

Saya pernah ke Aceh yang sebagian wilayahnya masih membara, tahun 2006, tapi sebagai wartawan “embed” – embedded journalist – yang kemana-mana dikawal TNI dengan M16 dalam genggamannya. Saat saya di Kabupaten Langsa, Ketua DPRD-nya masih di tangan penculik GAM.

Kali lain saya menjadi intruktur kegiatan pelatihan jurnalistik dan pengajaran video dokmenter dan ketemu sebagian besar LSM Aceh dan wawancara dengan orang orang GAM. Tapi menjauh dari tentara.

Hebatnya Desi, dia berada di satu yang sama, di antara dua pihak yang berkonflik.

Saya teringat, ketika Desi mengisahkan proses mewawancarai petinggi GAM di Aceh. Dia diminta menunggu di pom bensin, lalu ketika penjemput dari GAM datang dia diminta naik mobil dengan kepala tertutup kain, berputar putar sampai satu jam. Setelah wawancara dia dikembalikan ke tempat penjemputan, hanya 10 menit saja.

“Tadi berangkatnya lama, kenapa pulangnya cepat?” dia sempat bertanya kepada pengiringnya.

“Sebenarnya memang dekat, Kak. Hanya tadi sengaja kita putar putar dulu..” kata orang GAM terus terang.

Banyak cerita “off the record” yang diungkapkan Desi dalam lokakarya itu. Antara lain metode brutal yang dilakukan aparat kita dalam mengorek keterangan mereka yang dianggap pembrontak.

DESI FITRIANI terlibat dalam kejadian penting di Timor Leste 2006-2008, dimana terjadi insiden penembakan Presiden Timor Leste, Ramos Horta oleh kelompok pemberontak, dan Ramos Horta sempat menyebut namanya sebagai “Desi Anwar”.

“Aneh juga, Mbak Desi Anwar yang disebut. Padahal, sejak 2006, yang liputan ke Timor Leste itu aku,” katanya.

Dari namanya memang kalah pamor dari Desi Anwar, “anchor” yang dekat dengan tokoh tokoh beken. Tapi dalam nyali, Desi Fitriani tak ada duanya, sejauh ini.

Alumnus IISIP Pasar Minggu – Jakarta 1994 ini meliput di medan konflik seperti di Timor Leste, selama kurang lebih dua tahun, sepuluh kali bolak balik. “Lima di antaranya pada 2007,” anak pertama dari lima bersaudara itu.

Enam hari setelah aksi baku tembak yang menewaskan puluihan orang, Mei 2006, Desi Fitriani berhasil mewawancarai Mayor Alfredo, sang pembrontak, melalui proses berliku. Yang dikenangkan oleh wartawati kelahiran Jakarta, 7 Desember 1969 ini adalah saat meminta Mayor Alferdo mengganti kaus yang dikenakannya dengan baju militer.

“Bagaimana orang percaya ini Mayor Alfredo kalau pakai kaos?” kata Fitriani mengulangi ucapannya ketika itu. Dia ditemani juru kamera.

Alfredo marah, “Kamu baru kenal, sudah nyuruh-nyuruh saya. Kamu mau ngerjain saya ya?” semprotnya. Meski demikian, Alfredo mau juga mengganti kausnya dengan baju militer. Fitri mengaku mewawancarai Alfredo antara empat sampai lima kali.

Dalam cerita pengalaman peliputannya di Papua, mewawancarai OPM, Desi mengungkapkan keheranannya, karena di atas gunung ada pasukan yang berseragam dan bersenjata yang ratusan jumlahnya. “Bagaimana bisa mereka meloloskan senjata dan seragam begitu banyak ke atas?” tanyanya.

Di wilayah Gaza, Palestina, Desi sempat masuk ke lorong lorong tempat di mana warga Palestina menyelundupan berbagai keperluan sehari hari, dan dia menyatakan keheranannya bagaimana suatu bangsa bisa bertahan hidup dengan cara demikian, selama bertahun tahun.

Sebagai wartawati peliput konflik, Desi biasa menerima ancaman dan intimidasi. Tapi sejauh yang saya dengar, tidak pernah mendapat serangan fisik.

Sungguh ironis, justru di ibukota Indonesia, di tengah umat beragama, yang sedang memuliakan nilai nilai ajaran luhur, dia diserang pakai bambu dan balok. Selang dua hari setelah Hari Pers Nasional 9 Februari dirayakan. ***

Foto-foto: detik.com, ICRC, Metro TV.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!