Berhenti

Oleh: Rusdi Mathari

Hari ini, 19 tahun yang lewat, Soeharto berpidato untuk kali terakhir sebagai Presiden RI. Mahasiswa di Gedung DPR bersorak-sorak menyambut pidato itu. Besoknya tanggal 22 Mei, sebagian besar wartawan ramai menulis berita di halaman depan media mereka dengan kepala berita di bawah judul “Soeharto Mengundurkan Diri” atau semacam itu.

Saat itu, tak ada yang memperhatikan betul kebenaran judul dan isi berita “Soeharto Mengundurkan Diri” itu. Sebagian orang larut dengan suka-cita karena merasa telah menumbangkan sebuah rezim atau berharap nasib mereka akan berubah sesudahnya. Persoalannya: apa betul Soeharto mengundurkan diri atau mundur?

Saya pernah berbincang dengan Raymond Toruan, eks pemimpin umum koran “The Jakarta Post” dan berdiskusi soal tidak akuratnya wartawan menulis judul-judul berita begitu pula dengan isi beritanya. Dia menjelaskan, salah satu contoh ketidakakuratan wartawan adalah penulisan judul berita untuk pidato terakhir Soeharto: banyak wartawan yang menulis judul di medianya: “Soeharto Mengundurkan Diri”.

Raymond bercerita, redaktur di “The Jakarta Post” pun hampir menuliskan judul yang serupa tapi batal setelah rekaman pidato Soeharto kembali diputar di ruang redaksi “The Jakarta Post” beberapa jam sebelum berita itu naik cetak.

Malam sebelum naik cetak; Susanto Pudjomartono [saat itu pemimpin redaksi “The Jakarta Post”] berdiskusi dengan Raymond, seorang redaktur dan seorang penyelaras bahasa Inggris berkebangsaan Amerika untuk menentukan judul yang harus muncul di “The Jakarta Post” keesokan harinya. Susanto mengusulkan kepada Raymond sebuah judul “Soeharto Resign” tapi Raymond tak seketika setuju. Dia sebaliknya meminta redaktur “The Jakarta Post” untuk mendengarkan lagi rekaman pidato Soeharto. “Dengarkan baik-baik,” kata Raymond.

Hasilnya: tidak ada kata “mundur” atau “mengundurkan diri” yang disampaikan Soeharto dalam pidato yang disampaikan di Credentials Room, Istana Merdeka. Kata-kata Soeharto yang ditafsirkan sebagai “mengundurkan diri” oleh banyak wartawan lalu ditulis di media mereka adalah “… Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini, pada hari ini, Kamis, 21 Mei 1998.”

Judul “Soeharto Resign” yang diusulkan Susanto karena itu menurut Raymond bukan saja tidak pas tapi juga tidak akurat. Si penyelaras bahasa mencoba mendebat tapi Raymond yang asli Tapanuli dan lama bersekolah di Yogyakarta menjelaskan, sebelum menuliskan judul dan berita tentang pidato Soeharto itu, mestinya harus pula dipahami tentang budaya Jawa yang memengaruhi sikap dan ucapan Soeharto.

Sebagai orang Jawa, kata Raymond, Soeharto tahu betul tidak mengenal istilah mundur. Pilihannya adalah: berhenti, tidak peduli, atau menyepi. Dengan penjelasan Raymond dan fakta rekaman pidato Soeharto yang diperdengarkan kembali di ruang redaksi, rapat para petinggi “The Jakarta Post” malam itu bersepakat menurunkan kepala berita: “I Quit”.

Judul itu tentu terasa asing terutama di tengah judul berita media termasuk media asing yang hampir seragam menulis kepala berita “Soeharto Mundur.” Namun belakangan, media asing yang sebelumnya latah ikut menuliskan judul “Soeharto Mengundurkan Diri” atau “Soeharto Mundur” selalu mengutip judul “I Quit” dari “The Jakarta Post” untuk menulis kelanjutan berita tentang Soeharto yang menyatakan berhenti sebagai Presiden RI.

Fakta tentang ini tak banyak diketahui orang termasuk para wartawan, dan penulisan judul dan berita yang akurat seperti yang ditulis oleh wartawan “The Jakarta Post” semacam itu mestinya menjadi kebanggaan seorang wartawan. Judul itu bukan saja sesuai fakta tapi juga tidak menipu para pembacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!