Hukuman Terhadap Penista Agama Menurut Al-Qur’an

Hukuman Terhadap Penista Agama Menurut Al-Qur’an

 

Kasus Ahok telah mengangkat kembali terminologi penistaan dan penghinaan terhadap agama, Allah, Nabi dan Al Quran. Saya tertarik untuk mencoba mencari-cari apa padanan yang tepat dari terminologi “penistaan” atau “penghinaan” itu di dalam Al Quran.
Satu-satunya ayat yang menyebutkan kata “menista” adalah sebagai berikut :

“Dan janganlah kamu menista orang-orang yang menyembah selain Allah, karena nanti mereka akan menista Allah dengan sikap permusuhan dan tanpa ilmu. Maka demikian itulah telah kami buat indah bagi tiap-tiap umat setiap perbuatan mereka kemudian kepada Rabb mereka lah tempat mereka kembali, lalu mereka akan diceritakan kembali tentang apa yang telah mereka perbuat” QS Al An’aam 108

Sepanjang yang saya temukan, inilah satu-satunya ayat Al Quran yang menyebutkan secara eksplisit kata “penistaan”, yaitu larangan kepada orang-orang beriman supaya jangan menista orang-orang yang menyembah selain Allah, yaitu orang-orang kafir dan musyrik, supaya mereka itu tidak berbalik menista Allah, dengan sikap permusuhan dan tanpa ilmu.
Al Quran dalam hal ini hanya memberikan pedoman preventif, yaitu orang-orang beriman jangan pernah memancing orang-orang kafir dan musyrik untuk menghina Allah. Dalam jiwa mereka itu sudah ada sikap permusuhan yang besar terhadap Allah dan orang-orang beriman. Juga karena mereka itu tidak memiliki ilmu yang cukup dan benar tentang Allah. Kita orang-orang beriman adalah kelompok manusia yang superior, sehingga tidak boleh bersikap emosional dan bodoh seperti mereka. Kita harus lebih bijak, lebih arif, lebih sabar dan lebih adil, karena kita adalah kelompok manusia terbaik yang ada di muka bumi ini.
Sikap emosional dan bodoh seperti yang dipertontonkan oleh orang-orang kafir dan musyrik, tidak dapat dilawan dan disikapi dengan cara yang sama. Hal itu hanya akan memancing mereka untuk lebih emosional dan jahil, dan memancing mereka untuk menista Allah, RasulNya dan orang-orang beriman secara kasar dan provokatif.
Kemudian, bagaimana jika mereka tetap menghina Allah, RasulNya, Al Quran dan orang-orang beriman?
Dalam sejarah Islam, kejadian penistaan terhadap Allah, Rasulullah, Al Quran, dan Islam, senantiasa terjadi dan terus menerus terjadi sejak Rasulullah saw diutus. Rasulullah saw disebut sebagai orang gila, sebagai tukang sihir, sebagai penyair, sebagai penipu, sebagai pencari kekuasaan. Al Quran disebut sebagai dongeng orang-orang terdahulu, sebagai mantera sihir, sebagai syair, dan lain sebagainya. Allah swt pun tidak sedikit dinistakan, disebut kikir, disebut miskin, dan lain-lain. Tetapi alangkah anehnya, Allah swt, melalui Al Quran yang Mulia, seolah-olah tidak menganggap semua kejadian itu begitu penting. Allah swt tidak memberikan sedikitpun penjelasan, apalagi perintah bertindak, kepada orang-orang kafir yang menghina Allah, RasulNya, Al Quran dan orang-orang beriman.
Ada terminologi lain yang sering digunakan Al Quran, yang mungkin agak mendekati terminologi penistaan, yaitu “mengejek” (mengolok-olok, mempermainkan) dan yang kedua “mendustakan”.
Terminologi “mengejek” di dapati dalam banyak ayat, antara lain dalam surat At Taubah ayat 65-66 sebagai berikut:

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah. ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?” Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kalian (lantaran mereka bertobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.

Abu Ma’syar Al-Madini telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi dan lain-lainnya yang semuanya mengatakan bahwa ada seorang lelaki dari kalangan orang-orang munafik mengatakan, “Menurut penilaianku, mereka yang menjadi tamu kita tiada lain adalah orang-orang yang paling mengabdi kepada perutnya, paling dusta lisannya, dan paling pengecut di saat perang berkecamuk.” Lalu hal itu disampaikan kepada Rasulullah Saw., dan lelaki itu datang kepada Rasulullah Saw. yang telah berada di atas untanya dan memacunya untuk berangkat, kemudian lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguh­nya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.”

Maka Allah Swt. menjawabnya melalui firman-Nya: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok1 (At-Taubah: 65) Sampai dengan firman-Nya: mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (At-Taubah: 66) Sedangkan kedua telapak kaki lelaki itu terseret di atas batu-batuan, tetapi Rasulullah Saw. tidak menolehnya, dan lelaki itu bergantungan pada pedang Rasulullah Saw.
Intinya adalah, yang biasa melakukan perbuatan “mengejek” Rasulullah saw, atau Al Quran, atau Islam, adalah orang-orang munafik. Dan berdasarkan riwayat sejarah di atas, serta sejarah Rasulullah saw yang lain, orang munafik tidak mendapatkan hukuman “pidana” atas apa yang mereka perbuat itu. Hukuman dan balasan mereka diserahkan dan dikembalikan kepada Allah swt saja, dan ditambah dengan hukuman sosial seperti dikucilkan dari pergaulan, tidak diterima sumpahnya, tidak dishalati jenazahnya dan lain sebagainya.
Adapun terminologi “mendustakan” digunakan untuk orang-orang kafir dan juga munafik. Antara lain dalam surat Al ‘Alaq :
Bagaimana pendapatmu terhadap orang yang mendustakan dan berpaling (ayat 13)
Apakah dia tidak tahu bahwa Allah maha melihat segala perbuatannya (ayat 14)

Juga dalam surat Al Maa’uun yang terkenal itu.
Tahukah kamu siapa orang-orang yang mendustakan agama itu? Mereka itulah orang-orang yang menindas anak yatim. Dan tidak bersedia menanggung hidup orang-miskin. Maka celakalah orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dalam shalat mereka. Dan orang-orang yang riya. Namun tidak mau memberi.
Yang menarik, apa perintah Al Quran tentang sikap, reaksi dan tindakan yang harus dilakukan oleh orang-orang beriman terhadap mereka yang menghina, mengejek dan mendustakan agama?
Kita dapati antara lain dalam surat Al Muzzammil ayat 10-14 :
Dan bersabarlah terhadap hal-hal yang mereka ucapkan serta tinggalkan mereka dengan cara yang indah, dan biarkan Aku yang bertindak terhadap para pendusta, yang mengumpulkan kemewahan dunia, serta hendaklah kamu biarkan mereka untuk sementara waktu, sebab telah Kami sediakan belenggu-belenggu kuat serta api yang bergejolak, juga hidangan yang menyesak disertai Azab pedih pada Hari ketika bumi beserta gunung-gunung berguncang, sehingga gunung-gunung itu menjadi tumpukan-tumpukan pasir yang berterbangan.
Atau dalam surat Al Qalam ayat 44 :
Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui,
Ada prinsip hukum yang penting untuk dipetik dalam perkara ini, yaitu bahwa dalam Islam, seseorang tidak dapat dihukum dalam mahkamah dunia, hanya karena perkataannya. Islam menganut prinsip freedom of speech, kebebasan penuh untuk berbicara. Manusia bebas untuk menyatakan pendapatnya, termasuk untuk menyatakan tidak percaya kepada Allah, tidak percaya kepada Al Quran, mengatakan Al Quran itu perkataan bohong, perkataan dusta, mengatakan bahwa Nabi itu pendusta, Nabi itu tukang sihir, Nabi itu dukun dan lain sebagainya.
Allah swt memerintahkan kita untuk memberi waktu tangguh selama mereka berada di dunia ini. Allah mengatakan dengan tegas, biarlah semua perkataan mereka itu Aku yang urus, mereka bertanggung jawab langsung kepadaKu.

Bahkan dalam surat Al Muddatstsir Allah menegaskan :

Biarlah Aku yang mengurus orang-orang yang Aku ciptakan sendirian. Dan telah aku jadikan bagianya harta yang banyak. Dan anak-anak yang selalu bersama dia. Dan telah Ku lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) selapang-lapangnya. Bahkan dia ingin sekali supaya Aku tambahkan lagi. Sekali-kali tidak, sesungguhnya dia telah menentang ayat-ayat Kami. Akan Aku beri dia beban pendakian yang memayahkan (ayat 11-17)

Dalam ayat-ayat ini, Allah menegaskan bahwa kalian tidak perlu mengurusi perkataan dan ucapan manusia, Allah tidak perlu pertolongan, Allah Maha Kaya, Allah Maha Mulia, Allah Maha Suci. Allah tidak akan terganggu sedikitpun dengan perkataan manusia, Kemuliaan Allah tidak akan berkurang sedikitpun, KeagunganNya tidak akan tergores secuil pun. Tidak usah kalian ambil pusing, tidak usah kalian galau, apalagi emosi, marah-marah, demo, teriak-teriak. Itu bukan urusan kalian, itu urusan Aku sendiri., Aku punya belenggu yang kuat dan api yang bergolak, juga hidangan yang menyesakkan disertai azab yang pedih, pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang sehingga gunung-gunung menjadi tumpukan pasir yang berterbangan. Allahu akbar.
Terus, urusan kita selaku orang beriman apa?
Pertama, kewajiban kita adalah beriman dan beramal shaleh dengan baik.
Kedua, kewajiban kita adalah berda’wah. Mengajak orang-orang kafir dan munafik itu untuk beriman kepada Allah, KitabNya, RasulNya, hari Akhir.
Ketiga, kewajiban kita adalah memperkuat barisan, membangun kekuatan umat, di segala sisi dan bidang. Kekuatan pribadi berupa kemampuan ilmu pengetahuan, kemampuan fisik yang kuat dan sehat, kemampuan berfikir yang baik, kemampuan berkomunikasi yang hebat, kemampuan bekerja yang profesional sesuai bidang masing-masing. Kekuatan umat berupa kekuatan organisasi, kekuatan kepemimpinan, kekuatan strategi dan taktik, kekuatan perencanaan, kekuatan visi dan misi, kekuatan finansial, kekuatan militer, kekuatan intelejen, kekuatan diplomasi dan lain-lain.
Keempat, kewajiban kita adalah berjihad, melawan setiap kekuatan yang secara fisik menzalimi kita, mengusir kita dari tanah air kita, merampas harta benda kita termasuk merampas kekayaan tanah air kita secara zalim, mengganggu kehormatan istri dan anak-anak kita. Adalah dayus kalau orang beriman tidak melawan mereka yang menyerang kita secara fisik. Tetapi zalim sifatnya, melawan mereka yang menyerang kita secara verbal dengan cara fisik. Islam mengajarkan, pantang surut mundur ke belakang jika menghadapi musuh yang menyerang secara fisik.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Hajj ayat 39 dan 40 :
Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi karena mereka itu telah dizalimi. Dan sesungguhnya Allah amat sangat mampu untuk menolong mereka.
Yaitu orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa sebab yang benar, melainkan hanya karena mereka itu berkata bahwa Tuhan kami adalah Allah. Dan kalau sekiranya Allah tidak menghadapi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, maka akan hancurlah biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolongNya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
Prinsipnya sangat jelas. Serangan fisik dilawan dengan fisik. Senjata dengan senjata. Akan tetapi, serangan verbal, penghinaan, penistaan, pendustaan, ledekan, ejekan, olok-olok, hanya dapat dilawan dengan kata-kata yang baik, yang bijak, yang sejuk. Sebagaimana firman Allah swt dalam surat An Nahl ayat 125 :
Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah (bijak) dan nasihat yang baik. Dan debatlah mereka dengan cara lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih tahu siapa yang sesat dari jalanNya, dan Dia lebih tahu siapa yang mendapat petunjuk.
Inilah inti Risalah Islam, yaitu Risalah Dakwah, mengajak manusia untuk bersama-sama menuju jalan Allah, dengan cara yang bijak dan nasihat-nasihat yang menyejukkan. Jika mereka menentang, menghina, menista, mengejek, mengolok-olok, debatlah mereka dengan cara yang lebih baik, bahkan dengan cara yang terbaik.
Kewajiban kita adalah mengajak manusia untuk menjadi beriman, sejahat dan sejelek apa pun perkataan mereka. Bahkan Firaun pun, yang mengaku sebagai tuhan, masih diberi kesempatan untuk didakwahi dan diajak untuk beriman. Iman bukan monopoli kita, surga juga bukan hak milik kita.

Wallahu a’lam.
Al bukhari a. Wahid

 

Sumber artikel: https://www.facebook.com/janganmimpimasuksorga/posts/1166819686761334

Kredit foto feature: http://forummbb.org/2016/11/supremasi-hukum-untuk-penista-agama/

Diunggah dan disebarluaskan oleh: Agus Salim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!