Buruh

Buruh

Oleh: Rusdi Mathari

 

Sewaktu pemogokan umum itu melanda London yang murung, tak seorang pun karyawan surat kabar “The Times” yang ikut di dalamnya. Tidak juga para wartawannya. Pemimpin surat kabar itu dengan pongah mengatakan, semua karyawan “The Times” setia kepada pekerjaannya, setia kepada profesinya dan karena itu, mereka tidak ikut-ikutan dengan aksi pemogokan umum yang melumpuhkan Inggris.

Hari itu, di pengujung 1926, di kota-kota di Inggris, para pekerja yang marah tengah menuntut pemerintah agar tidak menutup pertambangan batubara. Aksi mereka berakhir ketika pemerintah kemudian setuju untuk meningkatkan upah mereka dan menempatkan perwakilan yang memiliki kedudukan sama kuat di manajemen pabrik-pabrik.

Hingga 53 tahun kemudian, ketika hampir semua orang melupakan ketidakhadiran para wartawan “The Times” dalam aksi mogok di tahun 1926, kejadian sebaliknya, dan lebih telak, justru menimpa surat kabar ternama itu: “The Times” berhenti terbit karena seluruh karyawan termasuk para wartawan mogok bekerja. Dan berbeda dengan pemogokan umum 1926 yang hanya berlangsung beberapa hari, pemogokan yang terjadi di “The Times” malah berlangsung selama hampir setahun.

Tahun itu, 1978, manajemen “The Times” memutuskan untuk menggunakan komputer dan rencana itu ditolak oleh karyawan. Karyawan-karyawan di bagian produksi terutama, yang pekerjaan mereka antara lain menyusun huruf-huruf sebelum koran naik cetak, menganggap komputer akan menggantikan profesi mereka. Beberapa pengamat menyalahkan “The Times” karena gagal meyakinkan karyawan soal modernisasi dan sebaliknya memupuk keangkuhan profesi para karyawan.

Banyak yang dirugikan dengan pemogokan para karyawan dan wartawan “The Times” itu tentu saja, tapi para pembaca bisa diyakinkan bahwa bahkan wartawan pun berhak menyuarakan kepentingan mereka setelah selalu menyuarakan kepentingan orang banyak. Mereka menyadari juga tak bisa melakukan pekerjaan yang dilakukan wartawan “The Times”: melaporkan, menulis dan memberitakan ketika melihat ketidakadilan di sekitar mereka.

Pemogokan sebelas bulan yang dilakukan wartawan “The Times”, karena itu dimaklumi oleh para pembaca. Para wartawan dari media lain termasuk dari pesaing tidak mencoba menarik keuntungan dengan misalnya melamar atau menawarkan diri untuk menggantikan posisi para wartawan yang mogok agar koran itu bisa terbit kembali. Sebagian malah memberikan dukungan moral, yang lain mencarikan jalan keluar dan sebagainya hingga “The Times” terbit kembali dan tuntutan para wartawannya dipenuhi.

Bertahun-tahun kemudian, setelah manajemen “The Times” menyadari kesalahannya dan lalu memperbaikinya, surat kabar itu menjadi salah satu koran yang terpercaya di Inggris bahkan hingga sekarang. Pemogokan pada 1978 itu efektif mengubah pola pikir manajemen untuk memperlakukan wartawan dan karyawan sebagai aset, bukan sebagai sekrup dari sebuah industri yang hanya harus tunduk kepada keinginan dan kepentingan pemodal dan politik bos mereka.

Singkat kata pemogokan karyawan “The Times” berhasil, tapi pada saat mereka merayakan kemenangan, mogok nasional justru baru saja dimulai di Inggris. Sopir truk, buruh pabrik, dan pekerja di sektor publik lainnya serentak mogok di penghujung 1978. Aksi mereka berlangsung setahun dari musim beku ke musim beku tahun berikutnya. Mereka menamakan aksi mereka sebagai “Winter of Discontent”, istilah yang dipungut dari salah satu kalimat pembuka naskah monolog William Shakespeare berjudul “Richard III”: “Sekarang adalah musim dingin ketidakpuasaan…”

Inggris saat itu dilanda resesi. Pertumbuhan ekonomi melambat, produksi anjlok, pengangguran menumpuk. PM James Callaghan dari Partai Buruh yang berkuasa, sempat mengeluarkan beleid tentang perlindungan upah untuk melindungi para pekerja, tapi usaha mengendalikan inflasi itu tak efektif. Callaghan gagal dan akhirnya tumbang. Dia digantikan Margareth Tatcher, yang dijuluki sebagai perempuan bertangan besi yang segera membubarkan aksi mogok para buruh meskipun perekonomian Inggris tetap tak terselamatkan, dan baru siuman dua tahun kemudian.

May Day. Selamat Hari Buruh. Tiga puluh sembilan tahun yang lalu, para wartawan dan pembaca “The Times” tahu, wartawan adalah juga buruh.

 

Foto feature: http://www.fotolibra.com/gallery/1275164/the-times-london-wednesday-may-5-1926-covering-the-general-strike/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!