Generalisasi & Konflik

Generalisasi & Konflik

Oleh: Helmi Aditya

Generalisasi. Penyamarataan. Tanpa sadar, kita melakukan hal ini sepanjang waktu.

Dengan bermodal informasi kasus parsial dan insidentil, kita terdidik untuk menilai skala yang lebih besar dengan terburu-buru.

Problemnya, setelah begitu lama terbiasa dengan metode pendidikan satu arah, kita tak lagi tergerak untuk mencari tahu kebenaran informasi. Tak ada lagi cross-check. Tak ada lagi riset.

Apa kata media, apa kata guru, apa kata bapak dan ibu, dan beragam sumber sekunder – bahkan tersier – menjadi sumber utama kita dalam menerima informasi, dan parahnya, kita terima menjadi ‘value’ begitu saja, hanya karena sejalan dengan selera pribadi kita.

“Be vigilant!”

Kalimat di atas seringkali saya selipkan di akhir tulisan, sebagai pengingat. Sebagai pemantik semangat untuk riset, menggali dan mencari sumber alternatif. Karena apapun yang saya tuliskan, tentu saja, bukan mutlak kebenaran.

“Presumed? The fog of war is upon us and we are all being blinded by it. Believe nothing you read. Misinformation is the currency of the bloodsuckers on either side of this equation.”

‘Kabut perang’ sedang menyelimuti kita, dan kita, sedang terbutakan olehnya. Sebagai elemen alami dalam konflik, ‘kabut’ itu mewajibkan kita untuk tidak mudah percaya.

Penyebaran informasi yang salah, adalah hal kunci – seperti dilambangkan sebagai mata uang – bagi para haus darah dalam kedua kubu.

Kedua kubu? Yap.

Mungkin ini terdengar mengecewakan, namun bloodsuckers ada di setiap kubu. Tak ada hero dan villain dalam konflik politik, karena sudut pandang pribadi kita yang menciptakan kedua entitas itu.

Ambil contoh, Bashar Assad.

Apakah saya penggemar Bashar? No. Dalam buku saku idealisme saya, Bashar jauh dari kriteria untuk bisa digemari. Namun di sini, penting untuk memahami Bashar, sehingga kita bisa memaknai aksinya.

Korelasi Bashar sebagai Alawi, pemimpin partai Baath dan kedekatan historisnya dengan Rusia dan Iran, menjadikannya musuh alami bagi banyak orang. Namun tanpa riset, di titik ini, kita sedang melakukan generalisasi.

Lalu, mari bicara Korea Utara.

Begitu banyak berita miring soal Korea Utara, mulai dari pahit dan sulitnya kehidupan di sana bagi warganya, hingga model ideologi fasis dan feodal yang sedang diterapkan Kim untuk menjaga kelangsungan pemerintahannya.

Beragam informasi senada membuat kita menganggap, bahwa penentangan keras Korut terhadap apapun berbau AS dan Korsel, adalah ‘penyakit hati’ Kim semata.

Keras kepala, tangan besi, dan kebetulan punya jutaan rakyat yang ‘manut’ pula. Kurang apalagi?

Delusions of grandeur?

Bagi Kim, dan pejabat dalam pemerintahannya yang menyerupai oligarki, hal tersebut bisa saja disematkan. Namun untuk menyamaratakan penduduk Korut sebagai ‘manusia kelas dua’ yang hanya bisa menurut pada Kim, ini taktik berbahaya.

Seperti halnya konflik Syria, kita dihadapkan pada dua pilihan. Pro dan anti. Pro-Syria seringkali dikaitkan sebagai pro-assad, dan sebaliknya, anti-assad, juga acapkali dinisbatkan sebagai pendukung teroris.

FSA, dalam entitas awal pembentukannya, punya alasan valid sebagai kubu oposisi. Namun saat ia mulai ‘ditunggangi’ dan tak bisa menentukan langkah tanpa berkonsultasi dengan ‘penunggang’, maka validitasnya juga musnah saat itu juga.

Ini merupakan blunder besar FSA, yang terlalu percaya diri dengan kemampuannya untuk tetap ‘merdeka’, saat menerima bantuan logistik dan persenjataan dari negara-negara donor di Timur Tengah, yang uniknya, membenci demokrasi dalam negeri mereka sendiri.

Dalam hal ini, generalisasi tak bisa diterapkan pada kubu pro-assad, karena jika engkau bertanya, mereka akan menggelar ratusan alasan yang berbeda-beda atas pilihannya untuk mendukung pemerintah Syria yang sah.

Namun, generalisasi yang dulu saya hindari pada kubu anti-assad, lambat laun mulai tergerus dengan agenda donor, dan fanatisme terhadap dogma sebagai alat justifikasi teror.

Pribadi, saya sangat ingin menghindarkan generalisasi Daesh atau al-Qaeda sebagai manusia-manusia bejat, dan biang kerusakan di muka bumi.

Saya sungguh ingin menempatkan mereka sebagai manusia-manusia yang punya idealisme beragam, meski berperang dalam satu front.

Namun seperti kasus Israel dan pemukim zionis yang juga mengusung kerusakan berbekal dogma (dan keserakahan), semakin saya menggali dan mengenal pribadi-pribadi yang tampil di sosial media dan kolom berita, saya dihadapkan pada kenyataan pahit.

They are mostly (if not all) the same.

Misinformasi, mampu menjadikan seorang penjahat menjadi pahlawan, atau sebaliknya. Tanpa common sense, dogma menjadi perekat polar yang luar biasa kuat, menanggalkan rasionalisme dan logika dalam perjalanannya mengejawantah sebagai pemikiran praktis.

Syiah dan komunis, menjadi primadona dalam agitasi nir-nalar ini. Rumus generalisasi ini mampu secara ajaib merubah pemikiran orang banyak, bahkan bagi mereka yang konon ‘berpendidikan’.

Kita diambang konflik baru di semenanjung Korea. Mungkin bagi banyak orang, konflik di Korea akan kembali menjadi ‘perang yang sunyi dan terlupakan’, hanya karena mayoritas dari mereka bukan muslim, bukan syiah maupun sunni.

Namun potensi konflik Korea juga menjadi pengingat utama bagi kita dalam merumuskan generalisasi. Komunisme di Korea Utara, dan kapitalisme di Korea Selatan, hanyalah segelintir gambaran yang ingin ditanamkan media dalam benak kita.

Mungkin bagi sebagian besar dari kita, penduduk Korea Utara hampir tak memiliki dinamika berpikir sama sekali. Dan inilah juga yang membuat sebagian besar saudara kita, masih mendendam pada Bashar Assad karena kata ‘konon’, ia membantai Sunni.

Cara berpikir ini yang kemudian dibumbui dengan pola berpikir mendasar yang salah dengan komunis dan syiah, sehingga menyebabkan infiltrasi senyap namun masif pemikiran puritan ala Daesh.

Menyatakan syiah sesat, hanya karena sebuah buku, atau seseorang yang mengaku ini-itu. Lantang meneriakkan komunisme, karena PKI pernah melakukan perbuatan keji di tanah air.

Bagaimana mengenai begundal-begundal wahabi menyaru sunni yang berbuat kerusakan di Timur Tengah, apakah berarti semua sunni memiliki bakat inheren yang sama?

Bagaimana jika saya kabarkan bahwa Hitler adalah seorang vegan, apakah berarti semua vegetarian mempunyai pemikiran yang sama dengan Mein Kampf?

Mari kita bedah Korea Utara sedikit saja.

Tahukah kamu, bahwa diantara China, Korea dan Jepang, Korea merupakan peradaban tertua kedua di wilayah itu?

Jepang, sebagai perbandingan, merupakan masyarakat termuda diantara ketiganya, namun juga tahukah kamu, Perang Korea (1950 – 1953) diawali oleh penjajahan Jepang di sana?

Permusuhan penduduk utara dan selatan, diawali dari perbedaan sikap dalam penyikapi pendudukan Jepang. Penduduk Korea di utara, membenci setengah mati – sedangkan mereka yang berkumpul di selatan, mau untuk berkompromi dengan pendudukan Nippon.

Uniknya, gerakan anti-kolonial Jepang di utara justru didukung oleh China dan Uni Soviet, hingga akhirnya tak terelakkan narasi bahwasanya komunisme, sedang berusaha untuk menyatukan Korea dalam cakupan ideologinya.

Problemnya, perang Korea adalah perang proksi. Uni Soviet dan China, serta AS dan Sekutu, punya andil besar dalam konflik sangat berdarah sepeninggal Jepang pada akhir PD II.

Keengganan China dan USSR untuk terjun langsung setelah memberikan dukungan persenjataan – berbeda dengan AS –
adalah titik mundur Korea Utara, karena sebelumnya dalam tempo beberapa bulan saja, Korut sudah menduduki Seoul.

Lalu, jika Korut berperan sebagai penjahat dalam awal konflik ini – meski mereka berniat menggulingkan pemerintahan pro-kolonial Syngman Rhee di selatan – apa yang menjadi alasan bahwa mereka bukan sebagai penjahat lagi dalam konflik kali ini?

Seperti pernah dimuat di Resistensia, reaksi pembalasan AS melalui kampanye pemboman udara yang membabi-buta di seluruh wilayah Korea Utara, sipil dan non-sipil, adalah awal mula mengapa rekonsiliasi dengan Seoul adalah hil yang mustahal bagi Pyongyang.

https://resistensia.org/…/agresi-as-tak-bolehkah-korut-mem…/

Saking mengerikannya, 20 persen populasi Korea Utara terbunuh dalam pemboman dengan napalm yang bertubi-tubi, termasuk hancur leburnya 78 kota dan ribuan desa!

Kini, siapa yang menjadi penjahat? Korea Utara dengan pemaksaan visinya untuk menyatukan Korea melalui invasi, atau serangan balasan AS yang brutal dan mengerikan?

Ini sebab utama, mengapa kita harus berupaya untuk menghindari generalisasi.

Kebencian Korut, Kim dan warganya terhadap AS, bukan sesuatu yang semu dan mengada-ada. Memang, ada upaya pemerintahan Kim untuk menjaga momentum ini, untuk meredam infiltrasi regime-change yang menular melalui ide ‘modernitas’.

Represi di Korea Utara, hanyalah alat bagi Kim untuk melanggengkan ‘kerajaan’ kecilnya. Pembatasan ‘kebebasan’ ala Barat, juga menjadi tolok ukur bagi media untuk memaksa kita menetapkan ‘value’ bahwa Korea Utara hanyalah negeri miskin, terbelakang dan rentan kelaparan, yang dikuasai oleh rezim kejam – namun mampu membuat misil dengan hulu ledak nuklir.

Namun, siapa yang tak akan merajut dendam, saat korban napalm yang selamat masih bisa bercerita tentang kekejian AS masa itu?

Siapa yang tak benci setengah mati, kepada sesama anak bangsa yang memilih menjadi collaborator bagi rezim kolonial, dan bersorak-sorai saat warga yang anti-kolonial dihabisi?

Siapakah kita, untuk mengukur kemakmuran Korea Selatan sebagai sumber kebahagiaan, apalagi saat kamu melihat foto satelit yang menggambarkan betapa gelapnya Korea Utara di malam hari?

Sejatinya, saya malah iri kepada mereka, yang mengusung idealisme dan jati diri dengan sepenuh hati. Kim, akan pergi pada waktunya. Umur, dinamika politik dan pemikiran akan membentuk Korea Utara dengan sendirinya.

Tapi apa yang dicapai oleh Pyongyang hingga menggetarkan Washington, adalah murni kerja-keras warga Korea Utara, meski rela gelap-gelapan tanpa listrik di malam hari.

Know your enemy.

Catatan: Judul dari saya karena di tulisan aslinya tak ada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!