Laporan Pandangan Mata Ceramah dr. Zakir Naik di Bekasi

Laporan Pandangan Mata Ceramah dr. Zakir Naik di Bekasi

Pada hari Sabtu (8/4) lalu saya menghadiri acara ceramah umum dr. Zakir Naik. Lokasi di Stadion Patriot Chandrabraga, Bekasi. Kebetulan seorang teman yang berprofesi ulama menghadiahi saya beberapa Undangan VIP. Demi menghormati beliau, maka saya sempatkan diri hadir.

Serupa dengan kehadiran Djarot Saiful Hidayat pada acara Haul Soeharto yang berlokasi di Masjid At-Tiin, kehadiran saya semata sebagai sebuah penghormatan dan pemenuhan tugas sosial saja. Bukan sebagai bentuk dukungan apalagi persetujuan.

Dalam konteks keilmuan, saya berupaya obyektif, apalagi saya pernah belajar formal di bidang agama. Maka, tidak ada argumentasi yang serta-merta salah atau keliru di mata saya. Serupa dengan para ulama abad pertengahan yang justru memandang “ikhtilaf” sebagai rahmat.

Itulah yang saya bawa saat menghadiri acara tersebut. Insya Allah, iman dan pengetahuan agama saya memadai untuk memahami pemaparan penceramah asal India tersebut. Bahkan saya mempersiapkan diri dengan membaca sejumlah referensi dan menonton videonya lebih dulu.

Dengan berpandangan positif dan berbaik sangka, saya ringankan langkah kaki ke sana. Walau sebenarnya saya sedang sakit saat itu. Dan memang tak mengecewakan, karena menyaksikan acara di stadion itu serasa menonton pagelaran lain. Walau tentu, materinya berbeda. Kinerja panitia patut dipuji, walau ada kekurangan di sana-sini.

Terus-terang, saya merasa sedih menyadari kenyataan bahwa Indonesia memang di ambang perpecahan. Stadion berkapasitas sekitar 30.000 orang yang dipenuhi manusia serasa bukan di Indonesia. Selain ceramah yang dibawakan dalam bahasa Inggris, sebelum acara dimulai juga tidak ada lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan! Padahal, dalam istighotsah akbar NU di Sidoarjo, justru tanda nasionalisme religius itu dikumandangkan sebelum acara lain.

Hal itu masih ditambah disorakinya Walikota Bekasi Dr. H. Rachmat Effendi saat memberikan sambutan. Kenapa? Karena ia mendukung pembangunan gereja di wilayah yang dipimpinnya. Sebabnya sederhana dan jelas, gereja itu sudah patuh hukum dan memenuhi semua persyaratan. Kami pernah mengunggah beritanya juga di group ini dan juga di situs http://netizennegeri.com.

Apalagi saat ceramah dibawakan bergantian oleh Zakir Naik dan anaknya Farid Naik, nuansa “kami benar, kalian salah” terasa sekali. Toleransi dan tenggang-rasa yang sebenarnya mencerminkan Islam yang “rahmatan lil ‘alamiin” tak terasa. Bagi umat Kristiani terutama, sebenarnya apa yang disampaikan sudah melukai. Agak ironis karena itu justru bertentangan dengan “kalimatun sawa” yang ayatnya dikutip sebagai pembuka ceramahnya.

Secara pribadi, saya gelisah sepulang dari acara itu. Karena terasa nuansa friksi diametral. Akan tetapi hati saya tenang kembali ketika membaca berita terselenggaranya peringatan harlah NU di Sidoarjo. Karena sekali lagi, NU menegaskan komitmennya menjaga NKRI berdasarkan Pancasila yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!