Kenapa NuN Dibentuk

Kenapa NuN Dibentuk?
Oleh: Bhayu Mahendra H

Karena kegelisahan. Itulah awal mulanya ide pembentukan komunitas Netizen untuk Negeri (NuN) ini. Mayoritas tinggal di Jakarta, memiliki akses informasi sangat memadai, kelas menengah, dan berpendidikan tinggi. Namun, tak berdaya, merasa sendirian, dan cuma jadi penonton saat terjadi dinamika politik nasional, terutama di ibukota.

Apalagi saat berlangsung “perang agitasi dan propaganda” di media massa dan media sosial. Terasa sekali “suasana panas” karena derasnya kampanye hitam. Penggunaan “kabar dan berita bohong yang sengaja difabrikasi” atau lazim disebut “hoax” makin menyulitkan warga dunia maya atau netizen untuk memilih dan memilah informasi.

Maka, saya mengajak FB friends di account saya yang kerap menulis status cukup panjang dan cenderung menolak “hoax” untuk bersinergi. Banyak yang menyambut positif. Maka, dari yang tadinya cuma FB friends menjadi teman di dunia nyata juga.

Itulah manfaat minimal bagi yang mau berpikir positif. Seperti adagium seribu teman kurang, satu musuh terlalu banyak. Musuh yang dihadapi sebenarnya memang ada dan nyata. Mereka mendapatkan momentumnya melalui Pilkada DKI Jakarta 2017.

Ada satu kelompok yang jelas muncul, yaitu kelompok intoleran berbasis agama. Sebagian dari kelompok tersebut menginginkan Indonesia menjadi bagian dari organisasi keagamaan trans-nasional yang berpaham radikalisme. Sementara satu kelompok lagi masih “menunggu di tikungan”, yaitu mereka yang menginginkan Indonesia terpecah menjadi negara-negara merdeka yang lebih kecil.

Ancaman terhadap NKRI inilah yang membuat kami resah. Indonesia adalah negara kaya-raya sumber daya alamnya, bukan saja dengan keanekaragaman hayatinya, tapi juga banyaknya suku bangsa dan bahasa yang dimiliki. Ancaman Pan-Agamisme maupun Balkanisasi (Yugoslavia) atau Glasnost-Perestroika effect (Uni Sovyet) terasa jelas sekali kini.

Sudah banyak elemen masyarakat yang lebih dulu “berbuat sesuatu” memang. Tapi kami cuma rakyat biasa, tak punya akses ke sana. Bersinergi dalam NuN setidaknya telah mengubah kami dari sebatang lidi menjadi sapu. Tidak mudah lagi untuk dipatahkan.

Kami cuma coba berkontribusi bagi negeri. Sebagai netizen yang sehari-hari punya beragam aktivitas untuk mencari sesuap nasi. Di sela-selanya sembari bersenang-senang di media sosial, kami coba isi dengan muatan (content) yang positif. Setidaknya untuk mengingatkan kembali, bahwa kita semua punya Ibu Pertiwi yang sama yang harus kita jaga. Itulah Indonesia.

Demi Indonesia Raya!

Bhayu MH
Penggagas NuN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!