Renungan Kebhinnekaan Di Masa Tenang

Renungan Kebhinnekaan Di Masa Tenang

Oleh: Gantyo Koespradono 

Diakui atau tidak, belakangan ini ada sementara kalangan menganggap agama yang dianut oleh sebagian besar rakyat negeri ini identik dengan Arab.

Menganggap Arab sama dan sebangun dengan agama tersebut, sementara penganutnya marah besar ketika melihat orang yang tidak seagama menggunakan huruf tersebut hanya untuk menulis “Allah”.

Penyanyi Agnes Monica beberapa waktu yang lalu pernah menjadi korban saat ia tampil di atas panggung dan di gaun yang dikenakan ada tulisan mirip lafal “Allah” menggunakan huruf Arab. Banyak orang menyayangkan mengapa Agnes melakukan aksi senaif itu, meskipun banyak juga yang berkata: “Memangnya apa yang salah dengan Agnes?

Peserta kuliah Kemajemukan dan Keadilan
Desember tahun lalu, lewat pemberitaan, masyarakat diarahkan agar menjadi bodoh ketika di sebuah hotel ditemukan lafal “Allah” yang terpasang di bawah pohon natal. Para penjunjung Arab kontan marah karena menganggap penggunaan lafal yang bukan pada tempatnya (?) bisa mengganggu akidah. Duh, beginikah cara sebagian orang Indonesia beragama dan berbudaya?

Dalam suasana Pilkada, terutama di Jakarta ketika ada salah satu Cagub-nya memiliki dobel minoritas (keturunan Tionghoa dan penganut Kristen), para pemuja budaya Arab marah dan berseru: “Jangan pilih dia.”

Semangat menihilkan sang Cagub semakin menjadi-jadi ketika yang bersangkutan tersandung kasus sebuah ayat dalam kitab suci, sehingga ucapan para pemuja “peradaban” Timur Tengah itu, seperti “tangkap dia”, “penjarakan dia” dan “bunuh dia” menjadi sesuatu yang lumrah dan bukan sesuatu yang mengerikan.

Budaya orang Indonesia yang ramah, pemaaf, gotong royong, dan menghargai satu sama lain, belakangan ini lambat laun lenyap. Identitas kita seolah-olah hilang. Sebagian merasa: “Sepertinya aku tidak tinggal lagi di Indonesia”.

Belum lagi pikiran liar itu tereliminasi, muncul pula kabar dari Bogor yang menyebutkan para pemuka agama yang tergabung dalam sebuah organisasi keulamaan melarang umatnya menghadiri perayaan Cap Go Meh. Alasannya, budaya Cap Go Meh bisa berpotensi merusak akidah.

Gara-gara itu semua, sebagian orang, termasuk saya merasa (sekali lagi merasa) asing dengan negeri sendiri. Semoga saya keliru. Saya merasakan pelangi Indonesia tak lagi memunculkan warna warni. Muncul keraguan, orang Indonesia-kah saya? Haruskah Indonesia seragam dan gerakan kearab-araban dengan segala budayanya dianggap yang paling benar karena ia sedang berposisi sebagai mayoritas di negeri ini?

Tidak ingin mencari jawaban sendiri (karena berisiko salah), saya kemarin (Kamis 9 Februari) mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas dengan mengikuti kuliah Koentjaraningrat Memorial Lectures XII-2017 bertajuk Kemajukan dan Keadilan yang diselenggarakan Forum Kajian Antropologi Indonesia di Museum Nasional Jakarta.

Siapa yang tidak kenal Koentjaraningrat? Semua mahasiswa di negeri ini pasti tahu, sebab buku yang ditulisnya, Pengantar Ilmu Antropologi, selalu dijadikan buku wajib agar para mahasiswa semakin paham dan waras tentang asal-usul manusia Indonesia.

Memberikan sumbangsih pengetahuan dan pemikiran dalam kuliah kemarin adalah Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, Prof Herawati Sudoyo (ia berbicara tentang asal-usul keanekaragaman manusia Indonesia), penulis buku Negara Paripurna, Yudi Latif, dan Koordinator Forum Kajian Antropologi Indonesia, Geger Riyanto.

Lewat kuliah yang berlangsung selama tiga jam itu, para peserta — jumlahnya membludak dan memaksa panitia menambah bangku — diingatkan dan diwaraskan kembali tentang siapa sesungguhnya kita manusia Indonesia, meskipun masih ada peserta yang ngeyel soal manusia pertama dan kedua, Adam dan Hawa.

Menyimak penjelasan Herawati Sudoyo, para peserta, setidaknya saya, menjadi semakin waras bahwa bumi itu bulat, bukan datar seperti yang belakangan dipopulerkan tokoh agama dan dipercaya sementara kaum.

Dalam kuliah itu, Herawati, seperti juga yang sudah ditulis Koentjaraningrat dalam bukunya, menjelaskan asal-usul manusia hingga manusia Indonesia sekarang ini, mulai dari ujung Afrika sampai Afrika lagi, mulai dari Amerika sampai Amerika lagi, mulai dari Asia kembali lagi ke Asia. Terbukti bahwa bumi bulat dan peradaban tak pernah berakhir di satu titik. Ia terus berputar.

Jika semua itu (ada proses percampuran budaya dan peradaban) kita imani sebagai karya Tuhan, maka dari sono-nya, Tuhan memang tidak berkehendak menyeragamkan manusia. Tuhan tidak menginginkan adanya manusia mayoritas dan minoritas. Tuhan ingin menciptakan dunia dan penghuninya penuh dengan warna warni dan berevolusi secara otomatis, tidak ada unsur paksaan.

Tak percaya? Prof Herawati mengajak para peserta kuliah untuk melihat “pohon keluarga” (silsilah) masing-masing. Apakah kita berasal atau terdiri dari suku, budaya dan agama yang sama?

Tidak! Kita pasti akan menemukan keberagaman. Kita tidak mungkin eksklusif. Indonesia punya ratusan, bahkan ribuan suku dengan 730 bahasa. Jika ditelisik, sebagian besar mengandung bahasa Astronesia. “DNA kita itu berbeda-beda,” tegas Herawati.

Sebelumnya, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, menjelaskan dunia tidak mengenal mayoritas, termasuk Indonesia, sebab masyarakat dan peradaban yang ada di dunia ini berasal dari sebuah perbedaan.

Oleh sebab itu, saran Hilmar Farid, “Keberbedaan atau kebinekaan harus kita jaga dan kembangkan.” Kemajemukan, menurut Hilmar, adalah identitas bangsa Indonesia.

Ia malah menyarankan kalau kita ingin menyangga kebinekaan kita, maka keberagaman budaya dan tempat-tempat budaya harus kita pelihara dan kalau perlu sering kita kunjungi.

Harus diakui, kita memang kerap lupa dengan tempat-tempat budaya. Kita belakangan ini, seperti ditulis Denny Siregar, penggiat media sosial, lebih asyik membangun dan memegahkan tempat ibadah. Itu memang penting. Namun, celakanya, masih menurut Denny, kemegahan itu membuat pemimpin umat besar kepala, serakah dan tega “menjual” para pengikutnya kepada para elite politik yang haus kekuasaan.

Lambat laun, kelebaian dalam berumat menjadikan agama dan budaya (maaf) Arab sebagai sesuatu yang adiluhung dan menggerus kebinekaan kita.

Beralasan jika Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dalam acara yang sama menyatakan sependapat dengan Forum Kajian Antropologi Indonesia bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami darurat kebinekaan. Saya sih berharap semoga tidak.

Mengapa Forum Kajian Antropologi Indonesia menyimpulkan Indonesia sedang mengalami darurat kebhinnekaan? Fakta tidak bisa dibantah bahwa gerakan intoleransi kini sedang marak dikumandangkan oleh sejumlah tokoh elite politik dan tokoh ormas intoleran.

Aksi bela agama ketiga yang dirancang para tokoh intoleran akan digelar pada 11 Februari besok juga masih mengagendakan “lagu lama”, yaitu jangan memilih gubernur yang tidak seagama. Konkretnya, calon gubernur yang bukan berasal dari kaumnya, haram untuk dipilih.

Mengapa kepongahan identitas itu terjadi dan menjadi bola liar belakangan ini? Geger Riyanto menjelaskan bahwa itu semua muncul lantaran ada sementara pihak yang merasa identitasnya jauh lebih unggul daripada yang lain namun merasa diperlakukan tidak adil oleh negara.

Diperlakukan tidak adil? Yudi Latif mengajak para peserta kuliah Kemajemukan dan Keadilan agar berpikir jernih. Dia lalu mengungkapkan data bahwa di Indonesia ada 74.000 desa. Dari jumlah itu, 39.000 di antaranya adalah desa tertinggal, dan 70 persennya ada di Indonesia bagian timur.

Dari fakta itu, menurut Latif, “Yang diperlakukan tidak adil justru saudara-saudara kita di timur Indonesia, bukan kita yang tinggal di Pulau Jawa.”

Yudi Latif seiring sejalan dengan para pembicara di forum itu bahwa kebinekaan-lah yang telah memperkaya Indonesia. Dulu sebenarnya, masih menurut Latif, tidak ada Jawa dan Sunda. “Jawa dan Sunda muncul tidak lain adalah akibat dari konstruksi sosial,” katanya.

Menurut Latif, keberagaman adalah berkah yang diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia. Keberagaman di antara kita seharusnya menjadi pelengkap, sehingga keindonesiaan kita semakin sempurna.

Sebagai konsekuensi dari keberagaman dan keadilan, profesi dan jabatan publik di negeri ini, menurut Latif, bisa diisi oleh siapa saja. Profesi itu terbuka buat siapa pun. Inilah sesungguhnya keadilan. Jangan melihat ketidakadilan dari satu sisi (ekomomi) saja.

“Karena itu saya senang jika ada orang keturunan Tionghoa atau orang Kristen terpilih menjadi gubernur, bupati atau wali kota,” ujar Yudi Latif.

Persoalannya, benarkah Indonesia darurat kebinekaan? Saya lagi-lagi berharap tidak benar, meskipun Emha Ainun Nadjib pernah mengungkapkan kalimat reflektif seperti ini: “Kalau sudah dapat ilmu, gayamu kebarat-baratan. Kalau sudah merasa alim, gayamu kearab-araban. Lalu Jawamu mana?”

Saya menduga yang menggaung-gaungkan bahwa ketidakadilan merajalela di negeri ini sebagai pembenar untuk melakukan aksi intoleransi adalah para aktor politik yang punya kepentingan sesaat dalam rangka kekuasaan dan uang.

Kebinekaan dan keindonesiaan rakyat masih kuat. Mereka masih mampu melihat yang baik dan benar. Mereka masih dan tetap menghormati sesama dan kesantunan.

Pagi ini saya mendapat link Youtube dari seorang teman yang berisi liputan saat salah seorang Cagub menemui warga di Cakung, Jakarta Timur.

Rakyat yang tinggal di tepian sungai menyambut sang Cagub dengan gegap gempita, berebut salaman dan berfoto bersama. Mereka menyambut sang Cagub sepertinya penuh dengan harapan semoga ia terpilih dalam Pilkada 15 Februari besok.

Pembaca Seword ingin tahu siapa Cagub tersebut? Silakan lihat di sini. Tak usahlah bertanya kepada Presiden, apalagi Kapolri. Mereka sibuk, banyak urusan. Jangan ganggu.

Yang pasti, kebinekaan masih dan tetap ada. Buat warga Jakarta, selamat memasuki masa tenang.

 

Kredit Foto: http://www.kompasiana.com/bertysinaulan/hasil-penelitian-tidak-ada-orang-indonesia-asli_589dca5bf17a61080b03a60c

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!