Suatu Masa Saat PKI Dihabisi

SUATU MASA SAAT PKI DIHABISI

Oleh: Gantyo Koespradono

GAMBAR mirip palu arit di uang kertas yang belakangan kerap disebut-sebut Muhammad Rizieq membangkitkan kembali ingatan banyak orang tentang komunisme (baca: PKI) yang dalam sejarah Indonesia pernah hadir di negeri ini.

Hasil penerawangan Rizieq atas uang kertas yang dicetak Bank Indonesia itu disimpulkan olehnya — juga oleh para pengikutnya — bahwa diam-diam pemerintah (negara) secara sistematis menghidupkan kembali PKI.

Tema “PKI bangkit” dan “waspada komunis” terus dipekikkan Rizieq setiap ia — dengan daster kebesarannya — berorasi di depan para pengikutnya. Pekikan itu biasanya dibarengi dengan pekikan “waspadai penista agama”, “kafir”, “revolusi”, “kurang ajar” dan “guoblok.”

Izinkan saya merangkai kata-kata itu menjadi seperti ini: “Waspadai komunis! PKI dan penista agama yang kafir, goblok dan kurang ajar itu telah bangkit. Saatnya kita revolusi.” Hehehe, klop, kan?

Bagaikan seorang konduktor sebuah tim orkestra, ketukan dan gerakan tongkat Rizieq telah berhasil melahirkan “simponi” bersuara sumbang dan celakanya setiap orang, terutama kaumnya, dipaksa harus mendengar. “Cieee, dengerin, dong!”

Paduan bunyi instrumen itu terdengar begitu nyaring melalui beragam media. Bentuknya berupa agitasi, fitnah, hoax dan (maaf) sampah. Pemainnya ada yang sembunyi-sembunyi, ada pula yang unjuk gigi dan berpenampilan bak selebritas dan orang paling suci di Youtube. Ada pula yang lantang bersuara: “komunis setiap malam sudah masuk ke istana.”

Terserahlah Anda percaya atau tidak? Lihatlah mereka yang berteriak “om komunis om” usianya kini berapa? Pernahkah mereka mengalami “zaman PKI” atau masa ketika PKI dibasmi di negeri ini?

Saya beruntung, saya sempat hidup di zaman ketika PKI melakukan pemberontakan di tahun 1965 yang kemudian populer dengan sebutan G 30 S/PKI (Gerakan 30 September PKI).

Saat peristiwa G 30 S/PKI meletus, usia saya masih 8 tahun. Pada tahun yang sama, Joko Widodo (Jokowi) yang kini menjadi presiden baru berusia 4 tahun karena ia lahir pada 21 Juni 1961.

Saya membayangkan pada saat itu, kalau berbicara Jokowi mungkin masih pelo (cadel). Mungkin pula dia masih suka ngompol dan (maaf) eek di celana dan ingusnya meleleh hingga masuk ke mulut dan begitu saja ditelannya karena terasa asin.

Pada masa yang sama, Rizieq, usianya belum genap dua bulan. Ya, ia masih orok, karena ia lahir 24 Agustus 1965. Pada saat itu, Rizieq pipis dan eek di popok sudah menjadi kebutuhan rutin.

Siapa sangka pengalaman politik telah membawa mereka untuk mengetahui dan dipaksa tahu tentang PKI dan dilibat-libatkan di dalamnya. Saat pilpres 2014 hingga saat ini, Jokowi disebut-sebut sebagai antek PKI dan Rizieq begitu sangat lihai menuduh pemerintahan sekarang di bawah kepemimpinan Jokowi berusaha membangkitkan kembali PKI yang telah mati. Menurut saya, ini sebuah ilusi setengah mati.

Saya perkirakan generasi yang pernah mengalami momentum G 30 S/PKI tidak sampai 15 tahun lagi akan habis. Jika pun masih ada, mereka sudah pikun dan kalau pun masih hidup, bicaranya sudah cadel lagi seperti saat Jokowi berusia 4 tahun.

Boleh jadi pengetahuan dan pemahaman generasi penerus bangsa ini soal PKI hanya bersumber dari buku, kliping surat kabar, film dan cerita dari mulut ke mulut.

Mereka lantas berkesimpulan bahwa komunis identik dengan PKI. Komunisme di Tiongkok juga PKI. Komunisme di Rusia pun dianggap PKI tanpa mau tahu bahwa Presiden Putin adalah penganut Katolik. Komunisme disamakan dengan ateisme (tidak bertuhan).

Jangan-jangan saya yang menulis soal ini pun di sini dianggap/dituduh/dicurigai sebagai PKI, minimal antek-anteklah. Indikatornya, usia saya yang waktu itu 8 tahun sudah dianggap dewasa dan sudah bisa mengingat sesuatu dengan baik.

Kalau begitu izinkan saya memutar ulang ingatan saya pada waktu itu dan setelahnya.

Meskipun belum ada internet, apalagi media sosial, beberapa bulan sebelum G 30 S/PKI meletus pada 1965, hoax dari mulut ke mulut sudah beredar.

Keluarga saya (kami) waktu itu tinggal di Belitang, Sumatera Selatan. Ayah saya seorang pendeta. Kami tinggal di rumah dinas di Gumawang. Di bagian sisi rumah terdapat empat kamar ukuran 3 X 4 meter.

Ketika kami pindah ke rumah dinas tersebut, salah satu kamar sudah dihuni oleh seorang laki-laki bersama anak perempuannya. Kami biasa memanggil Pak Bazar untuk laki-laki itu dan Yayuk kepada anaknya.

Pak Bazar jarang bicara, namun lebih sering melempar senyum jika bertemu dengan kami yang masih bocah.

Berdasarkan informasi yang kami peroleh melalui radio (waktu itu hanya ada RRI) yang suaranya kerap tertiup angin (menghilang), situasi politik di Jakarta sedang memanas. Persisnya apa, saya tidak tahu. Lama-lama akhirnya saya tahu bahwa ada pemberontakan yang didalangi PKI.

Isu (sekarang hoax) pun menyebar dari mulut ke mulut, antara lain menyebutkan bahwa PKI akan membunuh tokoh-tokoh agama tanpa kecuali. Diisukan, ayah kami yang berprofesi sebagai pendeta juga akan dibunuh oleh PKI.

Namun, pada waktu itu sosok PKI seperti apa kami tidak tahu. Jika PKI adalah penjahat, saya membayangkan, orang-orangnya bengis, ke sana kemari membawa arit untuk membunuh siapa pun, terutama ayah kami yang pasti bertuhan.

Beberapa hari kemudian setelah G 30 S/PKI meletus, Pak Bazar tanpa pamit meninggalkan rumah kami bersama anaknya, Yayuk. Belakangan kami mendapatkan informasi bahwa Pak Bazar adalah bagian dari PKI. Kabar itu tentu mengejutkan kami. Sampai saat ini saya tidak tahu di mana mereka berada.

Sebagai seorang bocah yang nggak tahu apa-apa soal politik. Pernah suatu kali ketika pelajaran kesenian di kelas, guru meminta para muridnya menyanyi satu per satu. Saat giliran tampil di depan kelas, saya menyanyikan lagu “Bung Karno Jaya”. Ibu guru kami menegur saya tidak boleh menyanyikan lagu itu.

Akhir tahun 1966 atau awal 1967 (saya tidak ingat), kami pindah ke Jakarta. Suasana sisa-sisa politik panas pemberontakan PKI masih terasa, apalagi setelah Bung Karno digantikan Soeharto sebagai presiden.

Berita-berita tentang “kekejaman” sekaligus “ketakutan” PKI tersebar atau disebarkan melalui media massa. Koran-koran yang beredar pada saat itu (yang saya ingat) adalah Api Pantjasila, Merdeka, Indonesia Raja, Pedoman, Kompas, dan Sinar Harapan.

Dari koran-koran itulah saya mendapatkan informasi tentang PKI yang jahat (kesimpulan seorang bocah), sedangkan majalah yang beredar saat itu adalah Selekta.

Melalui media massa itu, saya kerap membaca bagaimana tentara berhasil menangkap anggota PKI yang katanya bersembunyi di bawah tanah (biasanya dilengkapi dengan foto tempat persembunyian).

Orang tua kami pada saat itu mengontrak sebuah rumah di kawasan Rawasari, Jakarta Timur. Suatu hari, om saya bernama Suharyono — kami biasa memanggil Om Ong — datang ke rumah.

Dia ngobrol dengan kakaknya (ibu saya). Saya tidak tahu apa yang dibicarakan. Begitu akan pamitan, Om Ong dan ibu berpelukan. Ibu menangis.

Belakangan saya diberi tahu, Om Ong pamitan karena dituduh terlibat PKI dan akan dipenjara. Ia dipenjara di Penjara Salemba tanpa proses pengadilan.

Beberapa tahun kemudian Om Ong dipindahkan ke Nusa Kambangan. Sebagai kakak, ibu saya tentu sedih. Namun, setiap Natal tiba, Om Ong selalu mengirim surat ucapan selamat Natal kepada kami.

Om Ong penganut Islam. Terakhir Om Ong megirim ucapan selamat Natal yang huruf-hurufnya disulam oleh Om Ong dengan benang warna warni di atas lembaran kain berwarna abu-abu seukuran pembatas buku.

Pada tahun 1980-an Om Ong bebas dan kini telah tiada setelah membuka klinik pengobatan tusuk jarum di Kudus.

Pada kurun waktu tahun 1970-1980-an, masyarakat diberi pemahaman oleh Orde Baru dengan slogan “bahaya laten PKI” melalui pemberitaan. Dengan slogan atau tagline itu, mayarakat selalu diingatkan bahwa PKI tetap menjadi ancaman, karena ideologi komunisme tidak pernah mati.

Saya berada di dalamnya setelah menjadi wartawan di koran Angkatan Bersenjata selama hampir 10 tahun. Koran ini mengemban misi menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dalam kebinekaan. Bahaya laten komunis selalu digembar gemborkan koran ini. Harian Angkatan Bersenjata bubar sebelum Pak Harto lengser dari jabatannya sebagai presiden.

Di masa Orde Baru, kecurigaan terhadap bahaya laten PKI terus terpelihara dengan baik. Aturan tertulis atau tidak tertulis pun dibuat. Muncullah istilah bersih lingkungan.

Lewat “program” bersih lingkungan, anak keturunan PKI (nggak tahu istilah ini tepat atau tidak; pantas atau tidak), dilarang menjadi pegawai negeri, tidak boleh berprofesi sebagai guru, dosen, dalang, ulama (pendeta atau ustad), dan profesi-profesi lain yang dianggap bisa mempengaruhi anggota masyarakat atau pengikut.

Pernah ada masa di mana masyarakat dipaksa menonton film “G-30-S/PKI” yang ditayangkan TVRI. Para siswa juga diharuskan menonton film ini karena ada materi soal ujian tentang bahaya laten PKI.

Waktu terus berlalu. Politik terus berubah disesuaikan dengan kepentingan. Bahaya laten PKI kini dipakai pihak-pihak tertentu untuk menakut-nakuti rakyat, sekaligus dijadikan “pasal” atau dalih untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah lantaran tidak sabar menunggu 2019. Doktrin agama dijadikan senjata ampuh untuk menepis atau mengeliminasi bayang-bayang bahaya PKI.

Celakanya pihak-pihak itu membentur-benturkan kepentingan dengan berdalilkan agama yang dampaknya jauh lebih berbahaya daripada yang sudah-sudah, lantaran belakangan ini banyak orang yang punya pikiran tidak lebih baik daripada saya saat berusia 8 tahun.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!