“Balada” Cak Budi dan Pendeta Agus Sutikno

“BALADA” CAK BUDI & PENDETA AGUS SUTIKNO

Oleh: Gantyo Koespradono

KEDUA laki-laki itu berbeda iman, namun sama-sama melakukan pekerjaan mulia: menolong dan melayani orang papa di kotanya.

Cak Budi beragama Islam, sedangkan Agus Sutikno penganut Kristen berjabatan pula sebagai pendeta. Ya, pendeta jalanan.

Keduanya malam tadi (Kamis 26 Januari 2017) tampil sebagai nara sumber dalam acara Kick Andy Metro TV yang dipandu Andy Flores Noya.

Pelayanan Cak Budi lebih fokus ke para manula yang luntang lantung di jalan, sedangkan Sutikno konsentrasi memberikan pelayanan kepada orang-orang prasejahtera, termasuk (maaf) pelacur jalanan di Semarang.

Menuturkan pengabdiannya kepada bangsa (memberikan solusi konkret mengatasi kemiskinan) kepada Andy Noya di Kick Andy, Cak Budi dan istrinya, Lina Yusi Anggrawati, mengungkapkan sampai saat ini setidaknya sudah ada 500 orang manula yang dibantu.

Layanannya kini juga sudah merambah ke luar kota, bahkan luar Pulau Jawa. Cak Budi sendiri tinggal di Kota Malang.

Guna memudahkan pelayanan, ia memanfaatkan media sosial (Instagram) sebagai tempat bagi anggota masyarakat untuk memberikan laporan (informasi) jika melihat ada manula yang terlantar di jalanan. Di medsos tersebut, Cak Budi punya 500.000-an pengikut, beberapa di antaranya adalah artis.

Begitu mendapat laporan, Cak Budi langsung gerak cepat. Ia mengaku menyesal bukan kepalang jika manula yang akan ditolong sudah meninggal dunia sebelum ia datang.

“Saya pernah punya pengalaman, lima belas menit sebelum saya datang, orang yang akan saya tolong tahu-tahu sudah meninggal. Sakitnya tuh di sini,” kata Cak Budi sambil meletakkan telapak tangan di dada.

Selain menolong para manula jalanan, Cak Budi dan istri juga membuat program bedah rumah dengan biaya yang digalang secara mandiri. Rumah gubuk orang-orang miskin “disulap” Cak Budi menjadi rumah pantas dan layak huni.

Semua pelayanannya kepada orang-orang papa itu disebut Cak Budi sebagai proyek lillataahita’ala (tanpa pamrih dan penuh syukur). “Hanya malaikat Tuhan yang mencatat,” katanya.

Prinsip seperti itu juga dipegang teguh sang pendeta, Agus Sutikno. Ia pendeta sebuah gereja Kristen Pentakosta di Kota Semarang.

Berpenampilan ala rocker dan preman (penuh tato di tubuhnya, bersepatu bot, berambut gondrong, celana ketat), Sutikno mengaku tidak tahu menahu dari mana uang yang diperoleh untuk membiayai pelayanannya blusukan ke daerah-daerah kumuh yang dihuni warga prasejahtera dan pelacur kelas jalanan.

Saat mengalami kekurangan dana, solusi pertama yang dilakukan Sutikno adalah berdoa. Ia yakin, doa punya kekuatan luar biasa. Ia tidak pernah mengajukan proposal kepada siapa dan lembaga mana pun. Dalam keadaan terpaksa, suatu kali ia pernah menjual kalung sang istri.

Sutikno juga mendirikan Yayasan Hati Bagi Bangsa. Lewat yayasan ini, Sutikno mengajar anak-anak tidak mampu belajar membaca dan menulis.

Ia dan istrinya juga melakukan pendampingan kepada para perempuan muda yang hamil di luar nikah. Pelayanan kepada orang-orang miskin ini sudah dilakukannya selama 14 tahun. Suktikno juga memberikan beasiswa kepada mereka.

Itu semua dilakukan Sutikno, sebab sebagai manusia, “keberadaan kita harus berdampak,” katanya.

Karena menyandang sebagai pendeta, pasti ada pihak yang mencurigai perbuatan mulia Sutikno dan istri, sebagai gerakan penyebaran agama (kristenisasi).

Benarkah? Tidak. “Sampai sekarang tidak ada orang yang saya layani yang pindah agama,” katanya.

Menjawab pertanyaan Andy Noya, Sutikno menjelaskan, dalam melakukan pelayanan, ia tidak melihat latar belakang agama dan suku orang yang dilayani atau dibantu.

Seperti halnya Cak Budi, Sutikno yakin Tuhan justru hadir dan berada di tengah orang-orang miskin, bukan di tempat-tempat mewah, bahkan mungkin di rumah ibadah.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan hingga September 2015 mencapai 28,51 juta atau 11,13% dari total penduduk Indonesia.

Data itu di awal tahun ini, bisa berkurang, bisa pula bertambah. Disebut-sebut, kemiskinanlah yang menjadi pemicu lahirnya frustrasi dan dimanfaatkan para manipulator agama untuk memberontak dan bersikap radikal kepada siapa pun, termasuk kepada negara yang dianggap bertanggung jawab mengatasi kemiskinan. Bahkan lebih ekstrem kaum papa itu dibujuk agar bersedia menjadi teroris karena terhasut orasi bahwa negara tidak peduli dengan mereka.

Tanpa harus berteriak-teriak “negara tidak adil”, “negara tidak becus” mengurus rakyat, Cak Budi dan Agus Sutikno langsung datang ke orang-orang yang statusnya kerap dijual kaum elite politik untuk memperoleh kekuasaan. Keduanya langsung menyapa dan menyentuh orang-orang miskin itu, lalu memberikan solusi konkret.

Benar apa yang dikatakan sosiolog Imam Prasojo dalam acara itu, di sekitar kita sekarang ini banyak orang bertopeng. Kelihatannya tampan, bersih dan mulia, tapi berhati busuk. Kontradiksi dan paradoks dengan penampilan Pdt Agus Sutikno dan juga Cak Budi.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!