Pindah Agama & Iman yang Meleleh

Oleh: Mohammad Monib

Isu nikah beda agama itu, tahun 2004 an masih horor dan mencekam. Fiqh Lintas Agama yang Paramadina terbitkan dikecam dan dikutuk dimana- mana. Kini, umat Islam mulai adem dan “sabar”. Entah sadar bahwa fenomena ini tak bisa dibendung atau mulai paham bahwa al-Qur’an,Hadis dan para fuqaha membolehkan. Kado Cinta dan Fiqh Keluarga Lintas Agama yang saya tulis habis dipasar buku serupa kacang goreng.

Pacaran atau nikah beda agama itu tak selalu identik dengan pindah agama. Sekalipun ada saja non muslim yang tertarik ke tauhid, jadi muslim atau muslimah. Jarang lho bila lewat konsultasi denganku yang muslimah kepincut hati jadi non muslimah. Apalagi yang muslim. Masing2 tetap terhormat dengan iman dan agama masing2. Beda kok kapasitas dan muatan benak dan bahasa agamaku dengan yang pasaran itu. Iiiiih geer dan sok. Ya biarin. EGP.

Yang pasti, seperti tafsir Islamku, yang terbaik tegakkan prinsip Islam. Tak boleh ada upaya paksa-memaksa konversi agama. Dan saya tidak sedang dan malu memarketingkan agama primitif,buas, identik dengan peradaban rimba padang pasir, dan serupa prilaku teroris. Dajjal Amerika dan zionis iblis saja cantik mainnya. Kaum beriman harusnya main cerdas dan cantik. Iiih malah keranjingan jadi teroris.

Karena itu,prosesi nikah yang kami sajikan:berikan ijab qabul bagi yang muslim tanpa butuh mengislamkan yang non muslim dan berikan blessing atau pemberkatan bagi non muslim tanpa menon-muslimkan yang muslim.

Sejatinya publik muslim mesti mengambil hikmah dalam paksa memaksa dari kasus Asmirandah. Ortu Andah menggiring Jovano baca syahadatain. Publik heboh, MUI teriak2 seperti nenek kehilangan ayam dan gerombolan mengaduk aduk air yang sudak keruh. Alih2 ikan terjaring,justru pancingnya pun digondol ikan. Syair Mashabi,pedangdut tahun 60 itu enak:”Rasa cinta pasti ada…cinta ciptaan yang kuasa”. Cinta itu lebih hebat dari 1000 kebangkitan,senandung Rumi dalam bait2 indahnya.

Yang menarik, beda umat non-muslim, beda umat Islam saat merespon pindah agama. Umat Islam heboh, teriak-teriak dan meradang, seakan gunung akan menimpanya. Sementara non muslim tenang, tak berisik, apalagi teriak-teriak. Lha wong hanya pindah cara dan model aja kok ribut. Toch sama-sama banyak jalan menuju Roma.

Coba bandingkan saat Bella Saphira ikut suaminya. Ia jadi muslimah. Tak ada yang berisik dan heboh. Ada kedewasaan dan kejernihan sikap yang jauh beda.

Umat Islam itu aneh tapi nyata. Tauhid itu jelas kokoh,mudah dipahami,tidak mberibet. Sejatinya menghasilkan pengiman yang mantap, taft,sekuat atol, tak gentar, pede abiiiis, umat yang iman dan agama yang tak goyang oleh goncangan dan dentuman apapun.

Tapi dalam riil kehidupan,outputnya justru menyedihkan. Yang lahir muslim yang lemah iman, gak pede,imannya muda lumer dan cair. Semudah eskrim di bibir Asmirandah.Tak sekokoh lipstik Dian Sastro. Ah mahmud (mamah muda yang sepetak sawah pun rela saya jual)

Gimana tidak saya kritik keras. Ada rumah ibadah lain ngeper dan disegel. Ada Ahmadiyah ngamuk. Ada tulisan Arab selain al-Quran dan Hadis yang dinilai apa meradang. Ada gafatar heboh dan menyakiti. Ada Syiah mau perang. Cermin jiwa kerdil dan kekanak kanakan. Maunya dipuja-puji terus sebagai umat yang sempurna dan pilihan Tuhan.

Aduh,sedih dan tragis sekali umat Rasulullah. Ya Rasul malu aku pada jenengan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!